Saturday, May 16, 2015

Pekerjaan dan Waktu Luang

A.  MENGUBAH SIKAP TERHADAP PEKERJAAN
Seiring perkembangan zaman, sikap dan penilaian individu terhadap pekerjaan mulai berubah. Masyarakat terlalu berekspektasi tinggi terhadap pekerjaan mereka sehingga mulai meninggalkan hidup sederhana. Pada kasus hirarki kebutuhan Abraham Maslow, bekerja merupakan kebutuhan dasar manusia.
1.    Definisi Nilai Pekerjaan
Merupakan nilai dari apa yang sedang atau telah kita kerjakan. Nilai pekerjaan sendiri bergantung kepada aspek kognitif masing-masing individu terhadap pekerjaan yang dijalankan. Sekecil apapun pekerjaan yang sedang dijalankan, apabila kita menikmati dan berpikir positif bahwa apa yang sedang kita jalankan akan membawa kita kepada sesuatu yang besar dan positif, maka pemikiran yang cenderung negatif akan menghilang dengan sendirinya.
2.    Apa yang dicari orang-orang dalam bekerja?
 a.     Uang: 
Aspek utama yang dicari dalam pekerjaan dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan  keluarganya. Salah satu hal yang dapat dikatakan sebagai tolak ukur mencari pekerjaan, karena semakin besar fee atau gaji yang ditawarkan besar kemungkinannya akan menarik para pencari pekerjaan untuk bekerja di perusahaan/industri tersebut.
 b.    Pengembangan diri: 
Kodrat manusia untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Individu bekerja juga dengan tujuan untuk menggali potensi diri mereka, dimana mereka dapat mengembangkan diri mereka.
c.     Mencari teman/sarana bersosialisasi: 
Sebagai makhluk sosial yang harus bersosialisasi, manusia perlu bekerja juga untuk menambah teman dan koneksi sosial mereka.
d.    Kebanggaan/kehormatan diri: 
Aspek lainnya yang mendorong individu mencari pekerjaan adalah kebanggaan dan kehormatan diri. Dimana mereka akan merasa bangga apabila bekerja di suatu tempat yang dianggap prestisius oleh orang lain.

Fungsi Psikologis dari Pekerjaan

Fungsi psikologis dalam bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan social yang penting. Rasa pemenuhan pribadi, orang membutuhkan perasaan kalau mereka tumbuh, mempelajarai keahlian baru, dan mencapai sesuatu yang berharga ketika perasaan ini kurang, mereka mungkin pindah ke pekerjaan yang menjanjikan pencapaian yang lebih atau hasil yang jelas.

B.   PROSES DALAM MEMILIH PEKERJAAN

§  Tahap pertama adalah pada umur 15 - 21 tahun: 
Pada tahap ini, seseorang umumnya memilih jurusan, yang menurutnya baik dan ia suka atau karena rekomendasi orang lain atau sesuai dengan peluang kerjanya.
§  Tahap kedua adalah pada umur 22 - 29 tahun: 
Pada fase ini, orang memilih karir sesuai dengan jurusan yang ia pelajari di perguruan tingginya. Ia akan sangat menikmati dan semangat dalam menjalankan pekerjaan barunya dengan didukung suasana yang nyaman dan kondusif dengan jenjang karier yang dianggap jelas.
§  Tahap ketiga adalah pada umur 30 - 37 tahun: 
Bila seseorang sudah menekuni pekerjaannya pada tahap kedua, maka dalam tahap ini kinerjanya akan semakin bertambah dan semakin membuka peluang untuk menjajaki posisi yang lebih tinggi dari posisi sebelumnya.
§  Tahap keempat adalah pada umur 38 - 44 tahun: 
Merupakan tahapan yang dianggap kritis seiring dengan mengetatnya persaingan dunia kerja yang dimasuki oleh fresh-graduate yang kinerjanya mungkin lebih dari pekerja-pekerja lama terutama pekerja di usia ini.
§  Tahap kelima adalah pada umur 45 - 54 tahun: 
Bila seseorang dapat melewati tahap ke empat, biasanya ia akan semakin mantap di tahapan ini. Terdapat kematangan baik dalam jiwa dan dalam pekerjaan. Namun di sisi lain, orang juga akan mengalami kebosanan atau ketidaknyamanan di pekerjaan tersebut apabila salah mengambil keputusan pada tahap kelima.
§  Tahap keenam adalah umur 55 - 61 tahun: 
Orang-orang yang sukses melewati tahap ke empat dan kelima akan mengalami gairah kerja yang semakin bertambah pada fase ini. Kreatifitas muncul ide-ide baru utuk memperbaiki organisasi melintas dalam pikiran.
§  Tahap ketujuh adalah 62 - 70 tahun: 
Pada fase ini orang mulai memikirkan bagaimana meneruskan karir yang sudah dibangun atau perusahaan yang sudah dirintis dan berjalan. Ia mulai memikirkan siapa yang akan menggantikannya di kemudian hari.

C.  MEMILIH PEKERJAAN YANG COCOK
è Pekerjaan yang disesuaikan dengan kepribadian, antara lain:

ü Kepribadian Artistik
§  Karakter: kreatif, imajinasi yang tak pernah berhenti, suka mengekspresikan diri, suka bekerja tanpa aturan, menikmati pekerjaan yang berkaitan dengan design/warna/kata-kata. Orang artistik merupakan pemecah masalah yang sangat hebat karena mereka menggabungkan pola pikir intuisi dan pendekatan rasional.
§  Pekerjaan yang cocok: editor, grafik desainer, guru drama, arsitek, produser, ahli kecantikan, model, pemain film, sutradara, interior desain.

ü Kepribadian Konvensional
§  Karakter: menyukai aturan, prosedur yang rapi, teliti, tepat waktu, suka bekerja dengan rincian data, tertib, cenderung pendiam dan lebih hati-hati.
§  Pekerjaan yang cocok: akuntan, petugas asuransi, penegak hukum, pengacara, penulis, penerjemah.

ü Kepribadian Aktif
§  Karakter: gigih, berani, suka berkompetisi, penuh semangat, pekerja keras, ekstrovet, enerjik, dan progresif.
§  Pekerjaan yang cocok: wiraswasta, direktur program, manajer.

ü Kepribadian Investigasi
§  Karakter: analitis, intelektual, ilmiah, menyukai misteri, sangat memperhatikan detail, lebih suka bekerja secara individu, menggunakan logika.
§  Pekerjaan yang cocok: analisis sistem komputer, programmer, dosen, profesor, statistik, dokter.

ü Kepribadian Realistis
§  Karakter: realistis, praktis, simpel, bekerja di luar ruangan, berorientasi pada masalah dan solusinya, suka bekerja dengan objek yang kongkrit, pekerjaan yang menggunakan alat bantu atau mesin. Pekerjaan yang cocok: tukang listrik, dokter gigi, insinyur.

ü Kepribadian Sosial
§  Karakter: suka membantu orang lain, dapat berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, sabar, murah hati, memiliki empati, memusatkan diri dengan interaksi manusia, suka berbicara.
§  Pekerjaan yang cocok: psikolog, guru, mediator, perawat, entertainer, selebriti.

D.  WAKTU LUANG

Bagaimana menggunakan waktu luang secara positif?

“Waktu adalah satu-satunya modal yang dimiliki oleh manusia, dan ia tidak boleh sampai kehilangan waktu. – Thomas A. Edison.”

Meluangkan waktu itu ternyata penting dan banyak cara/kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Misalnya olahraga, jalan-jalan, melakukan hobby, atau ngeblog. Selain itu, mengisi waktu luang setelah kesibukan yang mendera ibarat bayaran dari pekerjaan itu sendiri. Kita tidak pernah menduga kalau kegiatan yang dilakukan di saat waktu luang bisa juga menghasilkan atau mendapat penghargaan. Siapa yang tahu kalau suatu saat nanti, kegiatan yang dilakukan di waktu luang, bisa menjadi penghasilan terbesar.
Menggunakan waktu dengan bijak, maka tidak ada istilah tidak punya waktu luang! Tidak ada waktu yang terbuang percuma.

“Kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginvestasikan waktu Anda. Melakukan dua hal bersamaan sama artinya dengan tidak melakukan sesuatu. - Stephen R. Covey.”


daftar pustaka:

Sunday, May 3, 2015

Cinta dan Perkawinan

Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta merupakan sifat baik yang mewarisi kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Perkawinan merupakan ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan. Perkawinan diresmikan dengan upacara pernikahan. Tujuan perkawinan sendiri salah satunya adalah membentuk keluarga.

A.   Memilih Pasangan     
  Memilih pasangan hidup tak dapat dihindarkan dari usaha diri sendiri. Terlalu banyak tipe akan berpeluang untuk menyulitkan diri kita sendiri. Beberapa orang menyatakan bahwa kemapanan yang dinomor satu kan dalam memilih pasangan. Tapi, apa salahnya apabila kita membantu pasangan yang kita pilih untuk mencapai kemapanannya? Istilahnya, kita tak hanya langsung menikmati apa yang telah di dapatkan pasangan kita. Namun, kita juga ikut merasakan bagaimana usahanya meraih sukses. Selain itu, kita pun juga harus berusaha menjadi pribadi yang baik dengan tujuan akan mendapatkan pendamping yang baik pula. Memilih pasangan hidup bukan merupakan hal yang mudah. Masih banyak orang yang merasa tidak cocok ketika akan memilih pasangan hidupnya. Menurut mereka, pasangan hidup adalah orang yang diajak untuk susah senang bersama, yang diharapkan hanya akan ada yang pertama dan yang terakhir.

B.    Hubungan dalam Perkawinan
Dawn J. Lipthrott, LCSW, merupakan seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and coach mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan. Perubahan dari satu tahap ke tahap selanjutnya memang tidak terjadi secara mencolok dan tak ada batasan waktu. 

Tahap 1 : 
Romantic Love. Saat ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.

Tahap 2 : 
Dissapointment or Distress. Di tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.

Tahap 3 
Knowledge and Awareness. Pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk  menggali informasi tentang bagaimana kebahagiaan pernikahan itu terjadi.

Tahap 4 
Transformation. Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku  yang berkenan di hati pasangannya. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.

Tahap 5 :  
Real Love.  Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” kata Dawn.

C.   Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Hubungan yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja berupa hubungan yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan persepsi pada pasangan, hubungan mereka akan dilengkapi oleh hal-hal yang dapat memicu konflik. Dengan kondisi yang terlalu banyak menimbulkan konflik, disitulah kekuatan perkawinan di uji. Pada dasarnya, dalam sebuah perkawinan sangat dibutuhkan penyesuaian diri yang baik adri diri seseornag terhadap lingkungannya. Kita tidak dapat menuntut atau hanya menunggu perubahan pada pasangan. Melainkan, diri kita pun harus turut beradaptasi dengan adanya hubungan sakral ini.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.

D.   Perceraian dan Pernikahan Kembali

Mengulang pernikahan atau menikah kembali setelah perceraian menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Mereka cenderung menjadi kurang percaya diri mereka dalam menjalani perkawinan yang baru karena kegagalan di masa lampau yang membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Namun di sisi lainnya, orang-orang itupun harus berusaha untuk meninggalkan sifat yang memicu adanya kesalahan yang sama dari masa lalunya demi memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

E.    Alternatif selain Pernikahan

Melajang menjadi salah satu pilihan alternatif selain menikah. Seiring perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang. Alasan lainnya yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah masih ingin bebas bermain/bebas meniti karir. Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan bagi seseorang tetap hidup melajang.


Daftar Pustaka:
·                     Adhim, Mohammad Fauzil (2002), Indahnya Perkawinan Dini, Jakarta: Gema Insani Pers
·                      https://winaudina.wordpress.com/2014/06/19/tugas-ke-3-kesehatan-mental-hubungan-interpersonal-cinta-dan-pernikahan/

Monday, April 27, 2015

Hubungan Interpersonal

Menurut Pearson (1983) manusia adalah makhluk sosial, artinya sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat menjalin hubungan sendiri, kita selalu menjalin hubungan dengan orang lain, mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain, membentuk interaksi serta berusaha mempertahankan interaksi tersebut. Kita melakukan hubungan interpersonal ketika mencoba untuk berinteraksi dengan orang lain. Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan interpersonal attraction.

Menurut Goleman dan Hammen dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) terdapat empat buah model hubungan interpersonal, yaitu:
1.      Model pertukaran sosial (social exchange model)
Pada model ini, orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu, model ini memberikan pandangan bahwa hubungan interpersonal sebagai transaksi dagang. Terdapat empat konsep pokok dalam model ini, yaitu:
1)      Ganjaran
2)      Biaya
3)      Hasil atau laba
4)     Tingkat perbandingan
2.      Model peranan (role model)
Disini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan skenario yang telah dibuat oleh masyarakat. Maka dari itu, model ini memandang hubungan interpersonal sebagai panggung drama. Terdapat empat konsep pokok yang harus diperhatikan dalam model ini untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu:
1)   Ekspektasi peranan (role expectation)
2)   Tuntutan peranan (role demands)
3)   Keterampilan peranan (role skills)
4)   Konflik peranan
3.      Model permainan
Model ini berasal dari psikiater Erie Berne (19964, 1972). Analisisnya kemudian dikenal sebagai analisis transaksional. Dalam model ini, orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia yaitu:
a.         Orang tua (parent), adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita.
b.        Orang dewasa (adult), adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional.
c.         Anak (child), adalah unsur kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
4.      Model interaksional (interactional model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem, terdiri atas subsistem-subsistem yang saling bergantung dan bertindak bersama sabagai satu kesatuan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan.

Bagaimana Cara Memulai Hubungan Interpersonal?
-          Pembentukan
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal – hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing – masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain, bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
-          Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan – tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. 
Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
  • ·         Keakraban
  • ·         Kontrol
  • ·         Respon yang tepat
  • ·         Nada emosional yang tepat

           Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Interpersonal
  • ·         Komunikasi efektif
  • ·         Ekspresi wajah
  • ·         Kepribadian
  • ·         Stereotyping
  • ·         Kesamaan karakter personal
  • ·         Daya Tarik
  • ·         Ganjaran
  • ·         Kompetensi


HUBUNGAN PERAN

·         Model Peran
Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.
·         Konflik
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.
Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut
·         Adequacy Peran dan Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (ketentuan) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.

INTIMASI DAN HUBUNGAN PRIBADI

Sebagai konsekuensi adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar individu menjadi spesifik atau terjalin hubungan intim. Orang-orang tertentu menjadi istimewa buat kita, sedangkan orang lain tidak. Orang-orang tertentu menjadi sangat dekat dengan kita, dibandingkan orang lain. Adapun bentik intim terdiri dari persaudaraan, persahabatan, dan percintaan. Lebi h jauh mengenai bentuk-bentuk hubungan intim tersebut daoat dijelaskan pada bagian berikut :
1.    Persaudaraan
Hubungan intik ini didasarkan pada hubungan darah. Hunungan intim interpersonal dalam persaudaraan terdapat hubungan inti ssperti dalam keluarga kecil. Pada persaudaraan itu didlamnya terkandung proximitas dan keakraban.
2.    Persahabatan
Persahabatan biasanya terjadi pada dua individu yang didasarkan pada banyak persamaan. Utamanya persamaan usia. Hubungan dalam persahabatan tidak hanya sekedar teman, lebih dari itu diantara mereka terjalin interaksi yang sangat tinggi sehingga mempunyai kedekatan psikologis. Indikasi atau tanda-tanda bila dalam hubungan interpersonal terjadi persahabatan yaitu : sering bertemu, merasa bebas membuka diri, bebasmenyatakan emosi, dan saling tergantung diantara mereka.
3.    Percintaan
Persabatan antar priab dan wanita bisa berubah mejadi cinta, jika dua individu itu merasa sebagai pasangan yang potensial seksual. Dalam suatu persahabatan, dapat melahirkan satu proses yang namanya jatuh cinta. Hal ini terjadi karena ada dua perbedaan mendasar antara persahabatan dan cinta.

INTIMASI DAN PERTUMBUHAN

Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena :
(1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh.
(2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan.
(3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia.
(4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup.
(5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus .


 Daftar Pustaka:



Sunday, April 19, 2015

Stres



a. Arti Penting Stress
Stres adalah kondisi individu yang bersifat dinamis, dimana seorang individu berada pada suatu situasi yang cenderung dapat menimbulkan tekanan, ketegangan emosi, dsb.
Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005:481) “Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai”. Sedangkan menurut Vincent Cornelli, stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam lingkungan tersebut.
Namun tidak selamanya Stress bersifat negatif. Sebagaimana adanya keseimbangan dalam hidup, stress juga memiliki sifat positif. Mustahil apabila seseorang tidak pernah mengalami stres dalam hidupnya. Karna bisa dikatakan bahwa stress merupakan suatu hal yang pasti akan ada di hidup individu untuk mengukur seberapa bisa seorang individu menghadapi masalah-masalah yang ada di hidupnya.
b. Tipe-tipe stress
a)        Frustasi
Muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan.Frustasi adaa yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan,bencana alam,kematian,pengangguran,perselingkuhan,dll)

b)        Konflik
Ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan,kebutuhan atau tujuan.Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian yaitu approach-approach conflict,approach-avoidant conflict,avoidant-avoidant conflict.

c)        Tekanan
Tekanan timbul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat berasal dalam diri individu.Tekanan juga dapat berasal dari luar diri individu/

d)        Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran,kegelisahan,ketegangan,dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk.

c. Symptom-Reducing Responses

1. Identifikasi
Cara yang digunakan  individu untuk menghadapi orang lain dengan meniru perilaku orang  tersebut.
2. Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang lain.
      3. Overcompensation/ reaction formation
Perilaku seseorang yang gagal mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan keduanya
 4. Sublimasi
Suatu mekanisme sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan pengembangan kegiatan yang positif.
 5. Proyeksi
Mekanisme perilaku dengan melimpahkan kesalahan pada subjek yang lain.
6. Introyeksi
Memasukan dalam pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain.
7. Reaksi konversi
Secara singkat mengalihkan konflik ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik.
8. Represi
Merupakan konflik pikiran, impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam tidak sadar dan dengan sengaja melupakan.
9. Supresi
Penekanan konflik, impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya.
10.  Denial
Mekanisme perilaku penolakan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan.
      11.  Regresi
Mekanisme perilaku seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, individu lebih memilih untuk menyendiri dan menghindar dari lingkungannya.
      12.  Fantasi
Apabila seseorang menghadapi konflik-frustasi, individu lebih banyak berfantasi/melamun.
13.  Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang menentang otoritas orang lain dengan perilaku yang tidak baik/tercela.
14. Sikap mengkritik orang lain
Bentuk pertahanan diri untuk menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku agresif yang aktif (terbuka).

d. Pendekatan Problem Solving
Pada umumnya, problem solving dalam mengadapi stress dapat dilakukan oleh diri sendiri dengan cara selalu mensugesti hal-hal positif kedalam diri kita. Tapi di sisi lain, kita pun membutuhkan saran dari orang lain atau hanya sebatas teman berbagi dengan tujuan bisa mengurangi beban pikiran yang menjadi salah satu faktor timbulnya stress. Akan tetapi, banyak orang juga yang memilih untuk bercerita kepada Tuhannya dan meminta petunjuk disetiap doanya.

Daftar Pustaka:
  • id.wikipedia.org/wiki/Stres
  • Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi Sunaryo. 2002. 
  • Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
  • http://khaayurika.blogspot.com/2012_04_01_archive.html